PT. AMNT bersama anggota kelompok melakukan penanaman pohon di lokasi kritis. (foto: ist)
PenaTenggara.com, (Sumbawa Barat) — Kelompok Tani Hutan (KTH) Sagena Indah yang ada di Kecamatan Poto Tano diharapkan mampu menjadi kelompok percontohan bagi masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan.
Bersama PT. AMNT, kelompok binaan dari KPH Brang Rea itu mengelola hutan untuk lebih bermanfaat. Dengan adanya pengelolaan itu, akan membawa dampak positif bagi lingkungan serta dampak ekonomi bagi masyarakat. Perusahaan tambang emas dan tembaga yang sedang berekspansi di tanah Pariri Lema Bariri terus berkomitmen dan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan masyarakat.

Dalam hal pengelolaan kawasan hutan, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menempatkan masyarakat sebagai penggerak utama didalam dua program strategis yakni Perhutanan Sosial dan Transformasi Penghidupan Masyarakat (PERTAMAS) dan pengembangan demplot kopi Rarak Rongis menuju Good Agricultural Practices (GAP). Kedua program tersebut merupakan salah satu inovasi unggulan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN serta menjadi rangkaian kegiatan yang disiapkan perusahaan dalam memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2025.
Untuk program PERTAMAS, PT. AMNT bersama KTH Sagena Indah memanfaatkan kawasan hutan yang kritis untuk selanjutnya di tanami buah-buahan serta ditanami pohon lamtoro yang dapat menjadi sumber pakan ternak bagi masyarakat sekitar. Nah, sumber pakan bagi ternak yang ditanam selain lamtoro ialah indigofora, turi dan juga odot. Sementara untuk buah-buahan ada kelengkeng, asam, mangga hingga nangka. Tidak sampai disitu saja, ditanami juga jagung, singkong dan umbi-umbian. Itu semua merupakan cakupan dari Agrosilvopastura.
“Untuk menyukseskan Agrosilvopastura ini, kurang lebih 5HA kawasan hutan dimanfaatkan. Terlebih lagi, ada juga tanah milik anggota kelompok dimanfaatkan yang secara keseluruhan terdapat 38Ha,” terangnya.

Superintendent Social Impact AMMAN, Lalu Nofa Setiawan Putra menegaskan, pendekatan berbasis partisipasi masyarakat merupakan kunci dari sustainable atau keberlanjutan. Melalui kedua program ini, AMMAN berupaya menciptakan ruang ekonomi baru bagi masyarakat yang dapat berjalan secara bersamaan dengan usaha pelestarian lingkungan.
“Program ini secara spesifik berfokus pada pilar Economic Empowerment yakni pemberdayaan Ekonomi sekaligus untuk mengelola dan melestarikan Lingkungan, yang bertujuan menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan masyarakat,” paparnya kepada wartawan, Rabu (19/11).
Program PERTAMAS saat ini menggunakan dua pola pendekatan yakni Agroforestry dan Agrosilvopastural. Terdapat empat KTH aktif yang sudah mulai berjalan, di antaranya Sagena Indah (KPH Brang Rea), Batu Akik (KPH Sejorong Mataiyang), Sampar Baru (KPH Sejorong Mataiyang), dan Brang Lamar (KPH Brang Beh).
Program Perhutanan Sosial di KTH Sagena Indah menerapkan pola agrosilvopastural yang mengintegrasikan tanaman kehutanan, pertanian, dan pakan ternak secara holistik. Tanaman seperti lamtoro, rumput odot, indigofera, dan turi ditanam secara strategis di sela-sela barisan tanaman utama berupa asam, kelengkeng, mangga, dan nangka di lahan seluas 5 hektar.
“Saat ini, program PERTAMAS berada pada tahap awal model percontohan yang berfokus pada penyiapan pondasi kelembagaan dan teknis. Harapannya kedepan, tanaman-tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” jelas Lalu Nofa.
Terpisah, di Desa Rarak Rongis, AMMAN membekali masyarakat petani kopi dengan pendampingan intensif melalui pengembangan demplot Robusta unggul bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka).
Program ini bertujuan untuk membangun kebun demonstrasi Robusta unggul di lahan seluas 1 hektar yang terbagi di 4 dusun desa Rarak, dengan menyesuaikan pada standar GAP, mengintroduksi klon unggul, serta melakukan alih teknologi budidaya dan pascapanen kepada petani kopi lokal. Melalui program ini, diproyeksi hasil panen akan meningkat drastis hingga 1,5 ton yang semula hanya 500 kg per tahun.

Terdapat empat varian bibit kopi yang dibudidayakan. Diantaranya BP 534, BP 936, BP 939 dan BP 409. Semua bibit itu dinyatakan telah melewati kualifikasi.
“Dengan kapasitas yang terus diperkuat, kami ingin masyarakat menjadi pemilik masa depan kopinya sendiri sekaligus penjaga keberlanjutan kawasan hutan. Dengan demikian, program ini tidak hanya menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga mengubah kopi Rarak menjadi pilar ekonomi berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui dua program ini, AMMAN berharap terbentuk model percontohan yang mampu memperkuat ketahanan ekologi, meningkatkan pendapatan, dan melahirkan pusat-pusat ekonomi baru berbasis partisipasi masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat. (deP)
