Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah ST.,M.Si saat menyampaikan pidato di hadapan masyarakat-petani di Jereweh saat kegiatan Sedekah Lang. Rabu, 11 Februari 2026.
PenaTenggara.com, (Sumbawa Barat) – Dalam rangka mendukung peningkatan produksi pangan di wilayah Kecamatan Jereweh, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat akan mengoptimalkan air Bendungan Tiu Suntuk yang ada di Kecamatan Brang Ene.
Untuk menyukseskan nawacita tersebut, pemerintah akan membangun jaringan irigasi yang cukup panjang untuk mempermudah akses dan hilirisasi air dari hulu ke hilir. Terlebih lagi, Pemkab Sumbawa Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah menetapkan design teknis jaringan irigasi yang menggunakan sistem saluran terbuka.
Demikian keputusan strategis ini disampaikan oleh Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah ST.,M.Si di sela-sela kunjungannya ke Desa Goa, Rabu, 11 Februari 2026 pada acara Sedekah Lang setelah melakukan koordinasi intensif melalui pertemuan daring dengan Kementerian Pekerjaan Umum.
Terhadap apa yang diupayakan ini, ungkap H. Amar, merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk menggairahkan sektor pertanian sekaligus menjawab kebutuhan petani terhadap perluasan pengairan bagi ratusan hektar lahan pertanian yang tersisa.
Lebih tehnis lagi, Bupati menjelaskan bahwa jaringan irigasi terbuka ini dipilih sebagai upaya dari efisiensi anggaran. Berdasarkan kajian teknis yang dipaparkan oleh Pemda ke Kementrian, ada dua pilihan yang ditawarkan. Pertama, terowongan sepanjang 3,15 KM atau justru menggunakan saluran irigasi terbuka sepanjang 28,86 KM.

Meskipun jarak saluran terbuka jauh lebih panjang, namun nilai investasinya justru lebih efisien yakni sebesar Rp 412 miliar, jika dibandingkan dengan opsi terowongan, nilainya mencapai angka Rp600 miliar. Ada selisih biaya yang cukup besar disitu yang nilainya menyentuh hampir Rp. 200 miliar. Opsi jaringan terbuka menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam bingkai menjaga stabilitas fiskal daerah.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menegaskan bahwa pemilihan terhadap skema jaringan terbuka tidak hanya soal penghematan biaya pembangunan awal, tetapi juga di lihat dari perspektif keberlanjutan fungsi infrastruktur di masa depan.
“Ini telah kami hitung semua dan putuskan akan menggunakan yang terbuka. Selain karena biaya, pemeliharaannya juga lebih mudah, pengawasan dan perbaikan akan lebih praktis dilakukan oleh petugas maupun masyarakat tani,” bebernya.
Nah, untuk masa pengerjaannya membutuhkan waktu yang cukup lama yakni tiga tahun bahkan sampai lima tahun kedepan. Untuk itu, Bupati berharap kepada masyarakat untuk dapat bersinergi menyukseskan mega proyek ini yang sangat bermanfaat sebagai investasi jangka panjang.

“In Syaa allah, bulan Agustus mendatang pemerintah telah menjadwalkan agenda pembahasan untuk pembebasan lahan,” bebernya seraya mengatakan bahwa kerjasama antara pemilik lahan dan pemerintah pusat melalui Kementerian PU menjadi kunci agar target pengairan lahan seluas ratusan hektar di wilayah Jereweh dapat terealisasi tepat waktu.
Terakhir, Bupati mengatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan leading sektor terkait yang dalam hal ini Dinas PUPR agar sesegera mungkin melakukan survei kelayakan terhadap potensi sumber air lokal di Desa Goa.
“Ini merupakan aspirasi terkait pemanfaatan aliran sungai setempat agar akan dikaji secara teknis untuk dikembangkan menjadi jaringan irigasi alternatif jangka pendek. Upaya ini diharapkan dapat menjaga produktivitas petani Jereweh selama menunggu rampungnya jaringan utama dari Bendungan Tiu Suntuk,” pungkasnya. (deP)
