Saat ini, ada cita-cita besar yang ingin di wujudkan oleh pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Lokasinya di Kecamatan Brang Ene. Cita cita itu diharapkan mampu menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru di tanah Pariri Lema Bariri.
Wisata kerakyatan. Itu nama program yang ingin di realisasikan oleh pemerintah setempat. Terdapat empat desa yang terdampak yakni Manemeng, Mura, Mujahiddin dan Kalimantong.
Bagi pemerintah, program ini merupakan strategi pembangunan pariwisata yang berbasis pada masyarakat. Fokusnya melibatkan warga sekitar secara langsung dalam menggerakkan roda ekonomi, memadukan keindahan alam dengan mengintegrasikan aktivitas keseharian warga seperti aktifitas pertanian, peternakan hingga atraksi budaya lokal.
Lebih jauh lagi, program ini digagas oleh pemerintah sebagai upaya sekaligus persiapan dari era pasca tambang. Dengan demikian, masyarakat diminta untuk mempersiapkan diri dari sekarang karena masyarakat sendiri akan menjadi pemacu dan pemicu dari suksesnya program tersebut.
Lantas darimana kita mencontohkan succes stori dari pariwisata kerakyatan itu.???
Joni Ade Pratama — Sembalun
di Nusa Tenggara Barat, pariwisata kerakyatan cukup menggeliat. Tingkat keberhasilannya ada yang tumbuh, berkembang bahkan ada yang menyentuh level internasional. Nah, pariwisata kerakyatan yang sudah masuk dalam pasar internasional yakni Sembalun.
Kawasan wisata yang terletak di Kabupaten Lombok Timur itu menjadi salah satu destinasi yang ramai di kunjungi wisatawan, bukan hanya lokal namun juga mancanegara. Seiring banyaknya angka kunjungan, hal itu berimplikasi pada penghasilan masyarakat.
Sembalun sendiri menawarkan berbagai macam rupa dan patut menjadi daerah percontohan. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kopi khas Sembalun, aktifitas petani hingga agrowisata.

Hajrul Azmi, pelaku UMKM sekaligus pengusaha kopi mengatakan bahwa penghasilannya fluktuatif. Meskipun demikian, tetapi grafiknya cendrung mengalami peningkatan.
Pria berpostur tinggi itu juga memaparkan mengenai rahasia yang membuat angka penjualan kopinya meningkat. Yakni perkuat dan perketat pada proses mulai dari pembibitan, perawatan, memetik, pemilahan hingga pengolahan. Dengan demikian akan menghasilkan produk yang berkualitas.
Lebih jauh lagi, quality control terhadap kopi harus di perhatikan karena itu menentukan. Dan yang paling penting lagi, ungkap pria yang pernah menimbah ilmu di Indonesia Coffee Academi tahun 2019 lalu itu ialah, menjaga cita rasa dan kualitas kopi karena itu menjadi identitas sendiri hingga menggugah konsumen.
“Kualitas adalah yang utama,” ungkapnya seraya berbagi pengalaman selama menimbah ilmu di Sustainable Coffee Platform Indonesia itu.
Hal senada disampaikan oleh Desi Widhayana yang juga pengusaha kopi. Ia mengatakan bahwa omzet penjualan produk meningkat karena tingginya permintaan konsumen.
“Penyebabnya, itu tadi kunjungan wisatawan meningkat. Produk kami bukan hanya untuk konsumsi tetapi juga dijadikan buah tangan,” terangnya.
Namun, ungkap Desi-akrabnya disapa, yang lebih penting lagi ialah Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pendukung utama dalam suksesnya usaha dan itu di butuhkan untuk manajerial baik keuangan dan produk.
“PT. AMNT memberikan dukungan pada penguatan kelembagaan sampai dengan tata kelola keuangan bahkan sampai dengan promosi serta pemberdayaan,” bebernya.
Tidak hanya pengusaha kopi yang turut kebagian berkah dalam roda ekonomi kerakyatan. Pengusaha dan pengrajin tenun pun ikut kecipratan dan omzet meningkat yakni kelompok tenun, Sangkabira di Dusun Lebak Lauk Desa Sembalun Lawang.

Hidayatul Aini mengatakan bahwa kelompok yang beranggotakan 20 orang itu terbilang cukup berhasil. Karena dalam memasarkan produk, kelompok bekerjasama dengan travel agent. Dengan itu, penjualan berhasil dan meningkatkan pendapatan.
“Puncak penjualan biasanya terjadi di bulan Agustus dan Desember. Bulan Desember yang paling dominan karena berdekatan dengan natal serta tahun baru. Sedangkan saat sepi penjualan terjadi di bulan puasa karena angka kunjungan menurun,” terang Hidayah.
Kelompok ini menekuni usaha tersebut terinspirasi untuk menjaga warisan leluhur dan melestarikan tenun. Nah, produk tenun yang dihasilkan berasal dari benang alam dan sintetis.
“Ada banyak motif tenun yang di kreasikan salah satu pucuk rebung. Produk tenun itu bukan hanya dalam bentuk sarung, tetapi ada juga dalam bentuk syal, tas sampai dengan selendang,” ungkapnya lagi.
Sementara itu, Sekretaris Desa Sembalun, Muhammad Syahidul Wathan yang juga pelaku pariwisata kerakyatan mengatakan bahwa transformasi Sembalun dari tahun ke tahun sampai dengan saat ini membutuhkan proses yang panjang. Sembalun yang menyita perhatian nasional bahkan internasional ini, tidak hadir begitu saja. Semuanya butuh proses.
Infrastruktur yang hari ini dinikmati sebagai sarana bukan datang begitu saja. Agrowisata yang menjadi brand utama Sembalun, tidak di sulap dengan mantra abrakadabra. Semua butuh proses dan itu bertahun tahun. Membutuhkan energi serta ketekunan. Belum lagi merubah prilaku dan mindset masyarakat. Semuanya butuh proses.
Pada awak media, mantan Kader dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menuturkan pada tahun 1987, Sembalun masih dengan hiruk pikuk pertanian tradisional menanam padi. Lambat laun, waktu terus berjalan hingga banyak petani yang beralih menjadi petani stroberi. Karena cerita kesuksesan yang menyebar dari mulut ke mulut, akhirnya banyak petani yang memilih menjadi petani agro.
Seiring ramainya angka kunjungan, masyarakat mampu membaca peluang usaha. Ada yang aktif menjadi petani agro hingga menjadi pelaku UMKM. Secara paralel, itu semua mendorong pertumbuhan investasi sampai dengan terbukanya lapangan kerja.
“Sembalun tidak datang begitu saja. Sembalun hadir dengan narasi optimisme dari berbagai lapisan masyarakat serta dukungan dari pemerintah,” gugahnya.
Memang, terangnya kembali, untuk memulai hal baru cukup berat dan ada banyak tantangan baik itu protes, kritik, saran dan hal lainnya. Namun, semua itu dapat dipecahkan jika semua elemen optimis dan ambil bagian dalam menyukseskan.
“Wisata kerakyatan itu lebih kepada kemuliaan bersama. Bukan saja menyasar para investor, tetapi lebih memberikan keuntungan langsung pada masyarakat,” pungkasnya. (deP)
